Di balik sorotan lampu pameran dan suara kamera yang berulang kali mengabadikannya, sebuah motor berdiri dengan percaya diri tanpa perlu berteriak. Stiletto Dagger, karya kolaborasi antara Andika Pratama dari Kromworks dan Rizaldi Parani, hadir bukan sebagai sekadar motor kustom, tetapi sebagai karya yang memadukan disiplin teknik, seni kontemporer, dan kepekaan desain yang matang.

Berbasis mesin Honda Supra 125 1990an sebuah ikon motor harian Indonesia yang sering dianggap “biasa saja”. Proyek ini memilih jalur yang tidak nyaman: mengubah sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang luar biasa. Bukan dengan tempelan komponen aftermarket, tetapi melalui pendekatan yang jauh lebih serius: coachbuilt engineering.

“Membutuhkan kesabaran penuh, proses yang panjang dan pengerjaan yang super rumit, tapi ini benar-benar menjadi manifestasi saya dan Pak Rizaldi dalam berkarya mewujudkan imajinasi liar bersama” papar Andika Pratama punggawa Kromworks.

Seamless Body

Seluruh tubuh Stiletto Dagger dibentuk dengan stainless steel 316 polish mirror. Setiap permukaannya bukan sekadar dikikir dan dihaluskan, tetapi ditempa, dipukul, dilengkungkan, dan diukur ulang berkali-kali hingga menjadi bentuk yang simetris, Sebuah tantangan besar dalam dunia metal shaping.

Tidak ada bagian yang mass produced, Tidak ada shortcut, Semua dibuat satu per satu dengan penuh semangat dan ketelitian.

Mulai dari rangka rigid yang dirancang ulang dengan geometri baru, foot control, headlight housing, hingga detail kecil seperti bracket dan aksen estetika. Semuanya adalah hasil dari tangan dan ketelitian manusia, bukan mesin produksi massal.

Hasilnya adalah siluet yang ramping, tajam, dan futuristik, namun tetap membawa sentuhan klasik craftsmanship. Bentuknya mengalir, seperti pisau yang memotong angin.

Dua Mesin Jadi Satu
Siapa sangka, didalam balutan stainless berbentuk manis elegan terdapat 2 buah mesin Honda Supra 125cc keluaran era 90an. “Saya beli mesin ini tahun 2020an kemudian ada pandemi jadi mesin dikerjakan secara perlahan dan penuh kesabaran. Hingga mendekati awal tahun 2025 proses pengerjaan mulai dikebut untuk masuk dimomentum Kustomfest – Magchinist 2025” ungkap Rizaldi Parani.

Posisi mesin tetap horisontal, bukan hanya 2 silinder saja tapi crankcase juga double, artinya memang ada dua mesin Honda Supra 125 yang ditanamkan di dalam tubuh Stiletto Dagger ini. Hasilnya, performa maksimal suara gahar, tapi dimensi tidak terlalu besar.

Nama yang Tajam: Stiletto Dagger
Nama Stiletto Dagger dipilih sebagai simbol dari dua karakter yang saling berpadu: keanggunan dan ketajaman. Stiletto identik dengan sepatu wanita hak tinggi merepresentasikan bentuk yang ramping, elegan, dan presisi, sebuah garis desain yang bersih namun penuh sikap.

Sementara Dagger diambil dari jenis senjata ramping Eropa kuno, ini menghadirkan makna keberanian, ketegasan, dan sifat memotong batas. Ketika disatukan, keduanya menciptakan identitas yang menggambarkan motor ini: karya yang tampak halus dan terkontrol, namun lahir dari keberanian untuk menantang standar dan memecah persepsi lama dalam dunia kustom.

‘Yang memberi nama Stiletto Dagger Pak Rizaldi sendiri, sangat selaras dengan desain motor yang aku buat dan rancang, namanya menjadi semakin kuat dan berkarakter dengan filosofinya, sesuai dengan bentuk dan dimensi motor” ungkap Andika Pratama.


Rizaldi Parani: Di Antara Regulasi dan Ekspresi Artistik
Di balik motor ini berdiri figur unik: Rizaldi Parani. Seorang dosen visioner Ilmu Komunikasi di Universitas Pelita Harapan (UPH), ia juga merupakan figur yang aktif di dunia otomotif nasional, terlibat dalam Ikatan Motor Indonesia (IMI) sebagai Ketua Komisi Modifikasi R2 & R4. Sebuah posisi yang menuntut keseimbangan antara passion, legalitas, dan masa depan industri.

Di luar jabatan resminya, Rizaldi sehari-hari berkarya dan berdiskusi dengan para builder, pelaku industri kreatif, regulator, dan komunitas. Di ruang ini ia tidak hanya menjadi pengguna atau penikmat, tetapi penghubung. Satu elemen penting dalam evolusi kustom kulture Indonesia.

Stiletto Dagger menjadi refleksi dari dirinya: formal ketika diperlukan, namun diam-diam berani melampaui batas.

“Lewat Indonesian Attack program dari Kustomfest serta dukungan penuh Mas Lulut sebagai Director disana, ini menjadi titik balik kebangkitan Indonesia di tingkat internasional. Semoga industri kustom Indonesia terus bangkit ditahun-tahun berikutnya, saya meyakini bahwa ini momentum yang tepat” jelas Rizaldi Parani.


Panggung, Pengakuan, Legitimasi
Ketika akhirnya diperkenalkan di Kustomfest 2025, Stiletto Dagger tidak hanya mencuri perhatian, ia mengubah percakapan. Judges, builders dan penonton bersepakat: ini bukan karya biasa. Ini bukan eksperimen. Ini adalah pernyataan.

Hasilnya jelas: Champion Nitro Head FFA – Kustomfest 2025, Yogyakarta. Prestasi tersebut kemudian menjadi tiket dan mendapatkan restu dari Kustomfest untuk menuju panggung yang lebih besar: Hot Rod Custom Show 2025, Yokohama, Jepang. Sebuah perayaan yang menjadi pusat gravitasi custom culture di dunia.

Di antara karya kelas dunia, di panggung di mana estetika, inovasi dan integritas craftsmanship adalah hukum utama, Stiletto Dagger kembali bersuara dengan tajam. Meraih Best Motorcycle Domestic – HRCS 2025, Jepang sebuah penghargaan yang diberikan untuk motor / mesin produksi Jepang.

Bukan sekadar menang, tetapi membawa nama Indonesia dengan cara yang bermartabat. Di titik ini, Stiletto Dagger bukan lagi hanya milik Rizaldi Parani atau Kromworks, ia milik skena custom Indonesia.


Sebuah Bab Dalam Sejarah
Pada akhirnya, Stiletto Dagger bukan hanya motor yang dibuat untuk dipamerkan. Ia adalah tolak ukur. Ia membuktikan bahwa: “Di tangan yang tepat, sesuatu yang biasa dapat menjadi luar biasa.”

Stiletto Dagger adalah simbol evolusi dari bengkel ke panggung internasional dan dari mimpi menjadi sesuatu yang dapat disentuh.

Dan seperti pisau Dagger itu sendiri, ia tidak dibuat untuk berisik. Ia dibuat untuk meninggalkan bekas, meninggalkan goresan sebuah karya yang mendunia.

Melihat Stiletto Dagger bukan seperti melihat mesin, tapi melihat karya seni avant garde yang kebetulan bisa bergerak. Ia menantang logika fungsi, mengecam kemapanan, dan mengingatkan bahwa dunia custom masih punya ruang untuk kegilaan visioner.

Karena pada akhirnya, motor ini bukan tentang kecepatan. Bukan tentang ergonomi. Dan bukan tentang utilitas. Motor ini tentang niat. Tentang ketekunan. Tentang keberanian untuk membuat sesuatu yang tidak punya alasan selain harus ada, itulah Stiletto Dagger.

Penulis : Feri Nurro | Foto : Kustomfest / Kromworks / Rizaldi Parani

 


Eksplorasi konten lain dari Mostly Magazine

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari Mostly Magazine

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca