Low and Slow: Gaya, Pride, dan Kreativitas dari Banyumas

Di jalanan Los Angeles tahun 1960-an, anak-anak muda Chicano memodifikasi mobil mereka hingga melaju rendah dan berkilau di bawah matahari California. Dari sanalah istilah lowrider lahir—lebih dari sekadar kendaraan, melainkan pernyataan identitas. Filosofinya sederhana tapi kuat: low and slow—rendah dan pelan, tapi penuh gaya. Dari mobil, budaya ini merembet ke dunia dua roda: lahirlah lowrider bicycle, sepeda yang bukan dibuat untuk ngebut, melainkan untuk tampil.

Puluhan tahun berselang, semangat yang sama berdenyut di ujung barat Jawa Tengah. Di Banyumas, seorang penggemar lowrider bernama Irman Effendi menyalurkan obsesinya lewat karya yang memadukan gaya, teknik, dan jiwa DIY. Bersama komunitasnya Bufallow (Banyumas Low Rider), Irman membangun sepeda impiannya di bengkel kecil yang ia beri nama Garage Tanpa Nama.

“Lowrider itu bukan soal cepat. Ini soal karakter,” ujar Irman sambil tersenyum, tangannya masih berlumur oli.

Sepeda ungu kreasinya tampak mencolok di antara deretan sepeda biasa. Rangka melengkung khas lowrider ia padukan dengan kilau krom dan ornamen blink-blink yang memantulkan cahaya. Kursi panjang berwarna ungu metalik, stang tinggi model “ape hanger,” hingga detail tabung suspensi yang berfungsi mengatur ketinggian kaki-kaki depan dan belakang—semuanya hasil racikan tangannya sendiri. Bukan dari katalog impor, tapi dari kreativitas dan keberanian bereksperimen.

“Saya pengin sepeda ini bisa hidup,” kata Irman. “Makanya saya kasih sistem pegas tabung biar bisa naik-turun, biar bisa ‘salam hormat’ ke jalan.”

Karya Irman tak hanya sepeda, tapi representasi kultur low and slow versi Banyumas—sebuah pernyataan bahwa budaya jalanan bisa hadir di mana saja, asal ada semangat dan tangan yang mau berkreasi. Di tengah tren sepeda modern yang serba ringan dan fungsional, sepeda lowrider ciptaan Irman justru berdiri kontras: berat, berkilau, dan penuh karakter.

“Garage Tanpa Nama itu tempat saya main-main sama besi. Tapi dari sana lahir gaya hidup,” tutupnya.

Di dunia lowrider, setiap las dan baut punya cerita. Dan di Banyumas, cerita itu bergulir pelan—rendah, tapi penuh gaya.


Eksplorasi konten lain dari Mostly Magazine

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari Mostly Magazine

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca