Ada yang bilang mobil kadang cuma mesin dan logam. Tapi untuk sebagian orang—terutama mereka yang hidup di jalur kultur, kendaraan bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah ekspresi, bahasa tanpa kata, dan perpanjangan identitas. Dan untuk Anggun Widianto, atau yang lebih dikenal dengan nama jalanannya: Jambronk Deathless Empire, Chevrolet Impala 1962 ini bukan proyek iseng, ini manifesto.

Jambronk bukan nama baru dalam skena diatas roda. Ia tumbuh bersama komunitas, keliling event, dan pelan-pelan membangun nama Deathless Empire sebagai bendera personal sekaligus laboratorium ekspresi. Tapi kali ini, ia melangkah sedikit lebih jauh: bukan motor, bukan apparel, melainkan ikon empat roda yang bisa menjadi representasi yang lebih besar dari dirinya dan kultur yang ia anut.

Dan lahirlah impala ini, sebuah lowrider elegan, yang tidak hanya hadir sebagai display showpiece Kustomfest, tetapi juga teman nongkrong, teman cerita, dan semacam pelepas penat saat rutinitas mulai terasa menekan.

Dari Ide ke Wujud

Inspirasi awalnya sederhana namun dalam: Jambronk ingin menghadirkan lowrider dengan rasa Indonesia. Bukan sekadar tempel budaya, tapi interpretasi identitas. Pinstripe yang menjadi napas lowrider dipadukan dengan motif batik tribal, menghasilkan bahasa visual yang unik versi Indonesia, tapi tetap setia pada pakem lowrider West Coast.

Warna dasar putih dengan sentuhan gold detail memperkuat nuansa elegan, bukan glam yang berteriak, tapi glam yang percaya diri. Segala garis, ritme, dan ornamen yang menari di permukaan body adalah hasil diskusi intens dengan builder Viridian Apink dari Zie Garage – Bantul, Yogyakarta. Dari awal, arah desain sudah jelas: “Lowrider yang rame, ceria, tapi berkelas. Dan yang paling penting: nyambung sama kepribadian Jambronk.”

Proses, Tantangan, dan Kolaborasi

Seluruh pengerjaan berlangsung kurang lebih enam bulan. Proses cat menjadi bagian paling menantang, bukan karena teknis semata, tapi karena standar estetika yang tinggi. Interior digarap dengan microfiber, dashboard custom, serta finishing yang menjaga satu kata: konsisten. Kaki-kaki dirombak total dengan sistem airsus 4 titik, membuat Impala ini bisa turun sampai mentok 0. Lampu belakang di upgrade dengan gaya Cadillac 1959 ikonik, bold, dan relevan dengan gaya lowrider. Beberapa part custom dikerjakan handmade, sementara selebihnya adalah kombinasi part custom yang dipilih secara presisi. Tidak ada yang sifatnya “asal cocok”, semuanya dipilih karena alasan.

Momen Debut dan Ledakan

Meski sudah selesai 4 bulan sebelum Lebaran Kustomfest, mobil ini disimpan rapat. Tidak diposting, tidak dipamerkan. Semacam ritual, semacam penahanan nafas sebelum panggung dibuka. Dan ketika kemunculan pertamanya terjadi di Kustomfest 2025 — Machinist, publik langsung tahu: ini bukan mobil biasa. Hasilnya? Best Hot Rod & Best Kustom Car Show. Debut pertama, makings of a legend.


Bukan Sekadar Piala

Yang menarik, setelah event berakhir, mobil ini tidak diperlakukan sebagai barang sacred museum. Tidak ditaruh di studio kaca atau trailer eksklusif. Buat Jambronk, Impala ini tetap punya peran lebih manusiawi: “Ini mobil buat ngerayain hidup. Buat hangout. Buat napas.” Saat penat kerja datang, chrome dan hidrolik ini yang menemani. Saat ingin kabur sebentar dari dunia, Impala ini jadi ritual escape. Ini bukan kendaraan, Ini karakter, Ini alter ego.

Bagian Favorit? Ketika ditanya bagian favorit, jawabannya sederhana: “Eksteriornya. Karena itu versi visual paling jujur dari apa yang mau gue sampaikan.” Dan setelah melihatnya, rasanya sulit membantah.

Chevrolet Impala 1962 milik Jambronk bukan hanya pemenang kontes. Ia adalah karya seni bergulir, simbol identitas, dan bukti bahwa kultur custom bukan tentang siapa paling kuat atau paling mahal, tapi siapa yang paling jujur mengejawantahkan dirinya. Dan pada akhirnya, hanya ada satu kalimat yang cocok menutup kisah ini: Deathless Empire bukan sekadar nama, ia abadi karena punya jiwa.

Foto : Kustomfest 2025 | Penulis : Feri Nurro


Eksplorasi konten lain dari Mostly Magazine

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari Mostly Magazine

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca