Sabtu, 13 Desember, lantai 2 area parkir Pasar Purwadadi, Subang, Jawa Barat, menjadi saksi bagaimana ruang sederhana bisa berubah menjadi pusat gerak custom culture. Chopper Attack Vol. 2 2025 hadir bukan untuk sekadar meramaikan kalender event, tetapi sebagai upaya sadar membangun karakter kultur di tanah Subang Utara.

Mengusung tema “In Collaborative Movement”, Chopper Attack membuka ruang tanpa sekat bagi elemen street art lokal mulai dari chopper, painting, tattoo, musik, dan skate. Tanpa aturan kaku, tanpa hierarki. Semua bergerak sejajar, saling melengkapi, dan saling menjaga rasa. Parkiran pasar disulap menjadi ruang temu yang jujur, tempat ekspresi dan silaturahmi berjalan beriringan.

Antusiasme yang hadir melampaui perkiraan. Pelaku dan penikmat custom culture dari Subang Utara hingga luar provinsi ikut ambil bagian. Meski demikian, Chopper Attack tetap berdiri teguh pada akar lokal. Seluruh pengisi dari lini street art dihadirkan khusus dari Subang Utara, sementara partisipan luar daerah diberi ruang pada sektor chopper show sebagai bentuk pertukaran energi tanpa menggeser identitas utama acara.

Lebih dari sekadar pameran atau pertemuan roda dua, Chopper Attack adalah proses merawat kultur. Menjaga silaturahmi, membangun keberanian berekspresi, dan menegaskan bahwa lokal bukan sekadar pelengkap. Dari wilayah domisili inilah semangat dibangun, bahwa Subang Utara mampu berdiri sejajar dan layak dikenal di lingkup nasional.

Chopper Attack tidak ingin berhenti sebagai event tahunan. Ia diarahkan menjadi budaya berkumpul, berkarya, dan menghadirkan kegiatan positif yang melampaui batas roda dua. Sebuah pergerakan yang tumbuh perlahan, berakar kuat, dan terus menjaga karakter custom culture lokal Subang Utara.

“Chopper Attack lahir untuk mewadahi penikmat chopper di Subang Utara tanpa aturan yang membatasi. Dari situ, movement ini berkembang menjadi ruang kreatif tanpa pembeda—semua setara, semua punya ruang.”
— Rifky Blondy salah satu penggagas choppers attack

“Kami fokus membangun karakter. Menjaga rasa, silaturahmi, dan keyakinan bahwa lokal Subang Utara mampu dan layak dikenal secara nasional. Chopper Attack adalah tentang budaya, bukan sekadar event.”
— Muhamad Farihin (Kebel) salah satu penggagas choppers attack

Penulis : Feri Nurro | Foto : Choppers Attack
Lihat postingan ini di Instagram
Eksplorasi konten lain dari Mostly Magazine
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
